Lewati ke konten utama

Halaman 1 dari 1 · 1–17 dari 17

Mendalam 5 menit baca Bahasa Indonesia Agak Laen (2024)

Review Agak Laen (2024): Panik Bersama di Rumah Hantu

Empat penjaga rumah hantu terjebak dalam masalah yang makin sulit disembunyikan. Ulasan tanpa spoiler tentang permainan ansambel, komedi gelap, dan ritme Agak Laen.

Agak Laen sangat menghibur ketika kepanikan empat sahabat saling bertabrakan. Komedi karakternya kuat, meski beberapa selingan dan penjelasan emosional memperlambat ketegangan.

Mendalam 5 menit baca Bahasa Indonesia Dilan 1990 (2018)

Review Dilan 1990 (2018): Pesona dan Batas Romansa Masa Sekolah

Dilan 1990 membangun romansa melalui percakapan, ingatan, dan pesona dua pemeran utamanya. Ulasan tanpa spoiler yang juga melihat sikap posesif dan kekerasan di balik nostalgia.

Mendalam 5 menit baca Bahasa Indonesia Jumbo (2025)

Review Jumbo (2025): Keberanian untuk Terlihat

Jumbo menemukan kekuatannya dalam persahabatan, kehilangan, dan keinginan seorang anak untuk dihargai. Ulasan tanpa spoiler tentang animasi, pengisi suara, dan batas-batas cerita petualangannya.

Mendalam 5 menit baca Bahasa Indonesia Satan's Slaves (2017)

Review Pengabdi Setan (2017): Rumah yang Kehilangan Rasa Aman

Pengabdi Setan menemukan horor dalam duka, kerja merawat, dan rumah keluarga. Ulasan tanpa spoiler tentang atmosfer, akting Tara Basro, serta batas penjelasan mitologinya.

74%
Celluloid Recommended
Mendalam 5 menit baca Bahasa Indonesia The Raid (2011)

Review The Raid (2011): Aksi yang Membuat Setiap Meter Berarti

The Raid mengubah gedung terkepung menjadi ujian ruang, tenaga, dan keputusan. Ulasan tanpa spoiler tentang koreografi silat, kejelasan gambar, dan keterbatasan dramanya.

81%
Celluloid Recommended
Ulasan singkat 2 menit baca Bahasa Indonesia Ada Apa dengan Cinta? (2002)

Review Film Ada Apa dengan Cinta? (2002): Masih Relevan?

Ada Apa dengan Cinta? bukan cuma film remaja — ia film yang menghidupkan kembali bioskop Indonesia setelah bertahun-tahun sepi, dan cara bicaranya soal cinta pertama masih terasa jujur sampai sekarang.

80%
Celluloid Recommended
Ulasan singkat 2 menit baca Bahasa Indonesia Agak Laen: Menyala Pantiku! (2025)

Review Film Agak Laen: Menyala Pantiku! (2025)

Sekuel Agak Laen memindahkan empat sekawan itu ke panti jompo dan jadi film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan 11 juta penonton — rekor yang belum tersentuh.

Ulasan singkat 2 menit baca Bahasa Indonesia Gundala (2019)

Review Film Gundala (2019): Superhero Indonesia yang Marah

Gundala garapan Joko Anwar bukan film superhero yang ingin menyenangkan semua orang — ia film soal ketimpangan kelas yang kebetulan punya tokoh berkekuatan petir.

77%
Celluloid Recommended
Ulasan singkat 1 menit baca Bahasa Indonesia Kang Mak from Pee Mak (2024)

Review Film Kang Mak from Pee Mak (2024)

Adaptasi Indonesia atas Pee Mak asal Thailand yang tidak sekadar menyalin — 4,9 juta penonton, dan lawakannya menemukan nada lokal sendiri.

Ulasan singkat 2 menit baca Bahasa Indonesia Laskar Pelangi (2008)

Review Film Laskar Pelangi (2008): Masih Layak Ditonton?

Laskar Pelangi (2008) garapan Riri Riza bukan sekadar film tentang sekolah kecil di Belitung — ia salah satu titik balik perfilman Indonesia, dan masih kuat ditonton hari ini.

87%
Celluloid Recommended
Ulasan singkat 2 menit baca Bahasa Indonesia Marlina the Murderer in Four Acts (2017)

Review Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Mouly Surya memindahkan bentuk film western ke padang savana Sumba, dan hasilnya salah satu film Indonesia paling tajam dalam satu dekade terakhir.

79%
Celluloid Recommended
Ulasan singkat 2 menit baca Bahasa Indonesia Pabrik Gula (2025)

Review Film Pabrik Gula (2025): Versi Uncut Sepadan?

Awi Suryadi kembali mengangkat utas viral Simpleman ke layar, kali ini di pabrik gula tua Jawa — 4,7 juta penonton, dan versi uncut-nya jadi perbincangan tersendiri.

Ulasan singkat 2 menit baca Bahasa Indonesia Pengabdi Setan 2: Communion (2022)

Review Film Pengabdi Setan 2: Communion (2022)

Joko Anwar memindahkan teror keluarga Rini ke rumah susun yang terkunci saat badai — skalanya lebih besar dari film pertama, dan rasa terjebaknya jauh lebih terasa.

Ulasan singkat 1 menit baca Bahasa Indonesia Sewu Dino (2023)

Review Film Sewu Dino (2023): Seribu Hari yang Panjang

Kimo Stamboel mengangkat utas viral Simpleman jadi horor santet bertempo lambat — 4,9 juta penonton, dan atmosfernya bertahan jauh setelah filmnya selesai.

Ulasan singkat 2 menit baca Bahasa Indonesia The Shadow Strays (2024)

Review Film The Shadow Strays (2024): Timo Tjahjanto Tanpa Rem

Film laga Timo Tjahjanto untuk Netflix ini membawa koreografi kekerasan Indonesia ke penonton global — dan jadi film Indonesia dengan jejak internasional terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Ulasan singkat 2 menit baca Bahasa Indonesia Vina: Sebelum 7 Hari (2024)

Review Film Vina: Sebelum 7 Hari (2024)

Diangkat dari kasus nyata di Cirebon, Vina: Sebelum 7 Hari menarik 5,8 juta penonton dan memicu perdebatan nasional yang jauh melampaui filmnya sendiri.