Lewati ke konten utama
Ulasan singkat3 menit bacaTanpa spoiler
Gundala (2019)

Review Gundala (2019): Pahlawan Petir dari Jalanan

Gundala karya Joko Anwar membuka jagat Bumilangit dengan superhero yang lahir dari jalanan dan ketimpangan kelas. Kelam, politis, meski paruh akhirnya padat.

★★★★☆ 4/5

Kesimpulan

Ya, dengan catatan. Film superhero Indonesia yang kelam dan berani bersuara politis, paling cocok untuk penonton yang sabar menunggu aksinya memanas.

Apakah Gundala layak ditonton?

Ya. Gundala adalah film superhero Indonesia yang punya sikap: kelam, marah pada ketidakadilan, dan jauh lebih tertarik pada jalanan daripada kostum. Joko Anwar membangun asal-usul pahlawannya dengan sabar, dan Abimana Aryasatya membuat Sancaka terasa seperti orang biasa yang terlalu lama memilih diam. Catatannya ada pada tempo: paruh pertama lambat, sementara paruh akhirnya terlalu padat oleh tokoh dan persiapan untuk film-film berikutnya.

Sinopsis Gundala tanpa spoiler

Sancaka tumbuh di lingkungan buruh, lalu harus bertahan hidup sendirian di jalanan sejak kecil. Pelajaran pertama yang ia dapat dari kota yang keras itu sederhana: jangan ikut campur urusan orang lain. Setelah dewasa, ia bekerja sebagai satpam dan menjalani hidup dengan kepala tertunduk, sampai petir memberinya kekuatan yang membuatnya sulit terus berpura-pura tidak melihat apa-apa.

Di sekitarnya ada Wulan (Tara Basro), perempuan yang berani melawan preman di lingkungannya, dan Pengkor, tokoh bayangan yang menguasai jaringan kekuasaan kota, diperankan aktor Malaysia Bront Palarae. Film ini tidak bertanya apakah Sancaka akan menjadi pahlawan, tetapi apa harga yang harus ia bayar untuk berhenti diam.

Gundala ditulis dan disutradarai Joko Anwar berdasarkan tokoh komik ciptaan Hasmi. Film berbahasa Indonesia berdurasi 123 menit ini menjadi pembuka Jagat Sinema Bumilangit.

Superhero yang lahir dari ketimpangan

Yang membuat Gundala berbeda adalah titik berangkatnya. Tidak ada laboratorium, planet lain, atau warisan keluarga kaya. Cerita dimulai dari buruh, pasar, dan anak jalanan, dan musuhnya adalah orang-orang yang memperdagangkan kebijakan publik demi kepentingan sendiri. Untuk film superhero arus utama, pilihan ini terasa berani dan sangat lokal.

Joko Anwar menghabiskan banyak waktu membangun masa kecil Sancaka dan kota yang membentuknya. Hasilnya, ketika Sancaka akhirnya bertindak, keputusannya terasa punya bobot. Kota dalam film ini kumuh, basah, dan penuh ancaman, dan sinematografinya, yang meraih Piala Citra 2019, membuat dunia itu terasa hidup tanpa harus terlihat seperti tiruan film Hollywood.

Abimana dan laga yang terasa kasar

Abimana Aryasatya, yang masuk nominasi Piala Citra Pemeran Utama Pria Terbaik, memerankan Sancaka dengan sikap lelah yang meyakinkan. Ia bukan pahlawan yang bersemangat menyelamatkan dunia; ia orang yang terbiasa menghindar dan kini dipaksa memilih. Tara Basro memberi Wulan keberanian yang membumi, sementara Bront Palarae membuat Pengkor mengancam lewat ketenangan, bukan teriakan.

Adegan laganya dekat dan kasar, lebih mirip perkelahian jalanan daripada koreografi yang rapi. Pendekatan ini cocok dengan nada filmnya dan membuat kekuatan petir Sancaka terasa sebagai tambahan, bukan jalan pintas. Efek visualnya tidak selalu mulus, tetapi jarang sampai mengganggu.

Saat jagat sinema mengambil alih

Kelemahan terbesar Gundala muncul ketika film ini mulai sibuk dengan tugas lain: membuka jagat sinema. Paruh akhirnya memperkenalkan banyak tokoh baru dalam waktu singkat, dan beberapa di antaranya hanya sempat tampil sebentar. Ketegangan yang dibangun dengan sabar di awal jadi sedikit terpecah.

Tempo paruh pertama juga bisa menguji kesabaran penonton yang datang untuk aksi. Joko Anwar jelas lebih tertarik pada suasana dan konteks sosial daripada adegan besar, dan tidak semua penonton akan setuju dengan prioritas itu.

Siapa yang cocok menonton Gundala?

Gundala cocok untuk penonton yang menyukai film superhero bernada gelap dan cerita asal-usul yang serius. Ada kekerasan yang cukup keras dan tema politik yang kental, sehingga film ini lebih pas untuk remaja ke atas daripada anak-anak. Siapkan waktu sekitar dua jam, dan jangan berharap aksi nonstop sejak menit pertama.

Kalau suka, coba juga:

  • Sri Asih, film berikutnya di Jagat Sinema Bumilangit dengan pahlawan perempuan sebagai pusat cerita.
  • The Night Comes for Us, untuk laga Indonesia yang jauh lebih brutal dan tanpa unsur superhero.
  • The Raid, tonggak laga Indonesia modern yang juga bertumpu pada perkelahian jarak dekat.

Kesimpulan

Gundala adalah awal yang berani untuk jagat superhero Indonesia: politis, kelam, dan berakar pada kehidupan orang kecil. Paruh akhirnya terlalu padat dan temponya tidak untuk semua orang, tetapi Joko Anwar berhasil membuat superhero lokal yang punya alasan untuk marah.

Rating: 4/5

Standar editorialLaporkan koreksi

Panduan penonton Indonesia

Di mana nonton Gundala?

Katalog Indonesia Celluloid mencatat Gundala di Vidio. Ini cuplikan ketersediaan, bukan daftar langsung; periksa judul dan paket langganan di platform sebelum menonton.

Pilih negara Indonesia saat mencari film. Jadwal bioskop, subtitle, harga dan paket layanan dapat berbeda menurut kota serta penyedia.

Jika kamu menyukai Gundala

Pilihan berdasarkan kesamaan genre dan Celluloid Score. Film serupa dengan Gundala →

Jawaban singkat

Di mana nonton Gundala di Indonesia?

Katalog Indonesia Celluloid mencatat Gundala di Vidio. Ini cuplikan ketersediaan, bukan daftar langsung; periksa judul dan paket langganan di platform sebelum menonton.