Lewati ke konten utama
Ulasan singkat3 menit bacaTanpa spoiler
The Shadow Strays (2024)

Review The Shadow Strays (2024): Laga Brutal Tanpa Rem

The Shadow Strays karya Timo Tjahjanto mengikuti pembunuh bayaran muda yang melawan mentornya demi seorang bocah. Laga Indonesia yang brutal dan sangat terampil.

★★★★½ 4.5/5

Kesimpulan

Ya. Salah satu film laga Indonesia terbaik dekade ini, wajib bagi penggemar aksi keras, asalkan tahan dengan kekerasan ekstrem dan durasi hampir dua setengah jam.

Apakah The Shadow Strays layak ditonton?

Ya. The Shadow Strays adalah film laga Indonesia yang brutal, megah, dan dikerjakan dengan keterampilan luar biasa, salah satu yang terbaik sejak era The Raid. Timo Tjahjanto menggelar rangkaian adegan perkelahian yang jelas, kreatif, dan terus meningkat, sementara Aurora Ribero membuktikan diri sebagai bintang laga yang meyakinkan. Catatannya hanya dua: durasinya 145 menit, dan tingkat kekerasannya ekstrem, bahkan untuk standar sang sutradara.

Sinopsis The Shadow Strays tanpa spoiler

13 (Aurora Ribero) adalah pembunuh bayaran muda yang dibesarkan dan dilatih oleh sebuah organisasi rahasia. Di bawah bimbingan mentornya, Umi (Hana Malasan), ia belajar membunuh tanpa ragu dan tanpa pertanyaan. Namun, sebuah misi yang tidak berjalan mulus membuatnya disingkirkan sementara dari tugas.

Dalam masa jeda itu, 13 bertemu seorang bocah (Ali Fikry) yang hidupnya porak-poranda oleh sebuah sindikat kejahatan yang kejam. Keputusannya untuk menolong anak itu berarti melawan perintah mentornya sendiri, dan menantang jaringan kekuasaan yang jauh lebih besar dari dugaannya.

The Shadow Strays ditulis dan disutradarai Timo Tjahjanto untuk Netflix. Film laga berbahasa Indonesia ini berdurasi 145 menit dan tayang perdana di Toronto International Film Festival 2024 sebelum dirilis secara global.

Koreografi yang jelas di tengah kekacauan

Kekuatan terbesar film ini adalah cara Timo Tjahjanto merancang dan merekam laga. Kamera tidak bersembunyi di balik potongan cepat; setiap pukulan, tebasan, dan tembakan bisa diikuti dengan jelas. Setelah The Raid, film laga Indonesia sering dibandingkan dengan tolok ukur yang sama, tetapi The Shadow Strays tidak mencoba menirunya. Film ini bergerak lebih luas: banyak lokasi, banyak senjata, dan banyak variasi perkelahian.

Setiap set piece punya identitas sendiri, dari pertarungan jarak dekat di ruang sempit hingga baku tembak berskala besar. Timo juga pandai menaikkan taruhan secara bertahap, sehingga film yang panjang ini tetap terasa bergerak. Tata suaranya membuat setiap benturan terasa menyakitkan.

Aurora Ribero, bintang laga yang lahir di sini

Aurora Ribero adalah kejutan terbesar film ini. Ia meyakinkan secara fisik dalam adegan laga yang menuntut, tetapi juga memberi 13 sisi rapuh yang membuat penonton peduli. Tokohnya bukan mesin pembunuh yang dingin; ia remaja yang baru belajar bahwa ia bisa memilih sendiri.

Hubungan 13 dengan bocah yang ia lindungi menjadi jangkar emosional film. Hana Malasan sebagai Umi memberi bobot pada konflik antara murid dan guru, sementara Adipati Dolken, Andri Mashadi, dan Kristo Immanuel melengkapi jajaran pemeran dengan wajah-wajah yang mudah diingat.

Panjang dan kekerasan yang menguji

Kelemahan The Shadow Strays terletak pada ambisinya. Durasi 145 menit terasa panjang, terutama ketika cerita berhenti untuk menjelaskan jaringan sindikat dan organisasi rahasia yang cukup rumit. Beberapa momen emosionalnya juga digarisbawahi terlalu tebal.

Kekerasannya pun harus disebut dengan jujur. Darah, luka, dan kekejaman ditampilkan tanpa sensor, dan bagi sebagian penonton hal ini akan terasa melelahkan, bukan menegangkan. Namun, bagi penggemar laga keras, justru di sinilah film ini berdiri paling tegak.

Siapa yang cocok menonton The Shadow Strays?

Film ini untuk penggemar laga keras, penonton yang mengikuti karier Timo Tjahjanto, dan siapa pun yang ingin melihat film aksi Indonesia di level terbaiknya. Sangat tidak cocok untuk penonton yang tidak nyaman dengan darah dan kekerasan grafis; film ini jelas hanya untuk dewasa.

Kalau suka, coba juga:

  • The Night Comes for Us, laga Timo Tjahjanto sebelumnya yang sama brutalnya dan juga dirilis Netflix.
  • The Raid, tonggak laga Indonesia modern dengan pertarungan jarak dekat dalam satu gedung.
  • The Raid 2, untuk laga dengan skala sindikat kejahatan yang sama luasnya.

Kesimpulan

The Shadow Strays adalah pencapaian besar untuk film laga Indonesia: koreografinya jelas, set piece-nya kreatif, dan Aurora Ribero tampil sebagai bintang aksi yang sesungguhnya. Durasinya panjang dan kekerasannya ekstrem, tetapi bagi penggemar genre ini, film ini wajib ditonton.

Rating: 4.5/5

Standar editorialLaporkan koreksi

Panduan penonton Indonesia

Di mana nonton The Shadow Strays?

Katalog Indonesia Celluloid mencatat The Shadow Strays di Netflix. Ini cuplikan ketersediaan, bukan daftar langsung; periksa judul dan paket langganan di platform sebelum menonton.

Pilih negara Indonesia saat mencari film. Jadwal bioskop, subtitle, harga dan paket layanan dapat berbeda menurut kota serta penyedia.

Jika kamu menyukai The Shadow Strays

Pilihan berdasarkan kesamaan genre dan Celluloid Score.

Jawaban singkat

Di mana nonton The Shadow Strays di Indonesia?

Katalog Indonesia Celluloid mencatat The Shadow Strays di Netflix. Ini cuplikan ketersediaan, bukan daftar langsung; periksa judul dan paket langganan di platform sebelum menonton.