Lewati ke konten utama
Ulasan singkat3 menit bacaTanpa spoiler
Marlina the Murderer in Four Acts (2017)

Review Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak: Western Sumba

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak karya Mouly Surya memindahkan film western ke savana Sumba: kisah balas dendam seorang janda yang tenang dan tajam.

★★★★☆ 4/5

Kesimpulan

Ya, dengan catatan. Western Indonesia yang tenang, tajam, dan berani, cocok untuk penonton sabar yang siap menghadapi tema kekerasan seksual.

Apakah Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak layak ditonton?

Ya. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak adalah salah satu film Indonesia paling tajam dan paling berani dalam satu dekade terakhir. Mouly Surya meminjam bentuk film western, lalu memakainya untuk bercerita tentang perempuan yang dipaksa mencari keadilan sendiri di tengah sistem yang tidak peduli. Marsha Timothy tampil memukau dengan permainan yang serba ditahan. Catatannya: temponya sangat sabar, dan materinya berat bagi sebagian penonton.

Sinopsis Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak tanpa spoiler

Marlina (Marsha Timothy) adalah janda yang tinggal sendirian di rumah terpencil di padang savana Sumba, Nusa Tenggara Timur. Suatu hari, sekawanan perampok datang untuk mengambil ternaknya dan berniat memperkosanya. Marlina melawan. Tak lama kemudian, ia menempuh perjalanan melintasi savana sambil membawa kepala pemimpin perampok itu, menuju kantor polisi untuk mencari keadilan.

Perjalanan itulah yang menjadi inti film. Di jalan, Marlina bertemu orang-orang yang masing-masing punya pandangan sendiri tentang apa yang pantas bagi perempuan, dan tentang apa yang baru saja ia lakukan. Kisahnya dibagi ke dalam empat babak, seperti bab dalam sebuah hikayat.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak disutradarai Mouly Surya dan berdurasi 95 menit. Film ini tayang perdana di Directors’ Fortnight Festival Film Cannes 2017, lalu meraih Piala Citra untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, dan Skenario Asli Terbaik di Festival Film Indonesia 2018.

Savana Sumba sebagai panggung western

Label “satay western” yang sering ditempelkan pada film ini bukan sekadar gimik. Savana Sumba yang kering, jalanan panjang yang kosong, dan kuda sebagai alat transportasi membuat bentuk western terasa wajar, bukan tempelan. Gambar-gambarnya lebar dan tenang, sering membiarkan tokoh tampak kecil di tengah lanskap yang tidak peduli pada nasib mereka.

Mouly Surya menahan hampir semua hal yang biasanya dilebih-lebihkan film balas dendam. Kekerasan tidak dinikmati kamera; ia terjadi, lalu selesai, dan penonton ikut menanggung akibatnya bersama Marlina. Justru penahanan itu yang membuat film ini terasa lebih mengganggu daripada film yang penuh darah.

Marsha Timothy dan keadilan yang harus dicari sendiri

Marsha Timothy memerankan Marlina hampir tanpa dialog besar. Sebagian besar dilakukan lewat wajah, tatapan, dan cara berjalan: perempuan yang sudah mengambil keputusan dan tidak merasa perlu menjelaskannya kepada siapa pun. Penampilannya dingin di permukaan, tetapi luka dan amarahnya selalu terasa di bawah.

Yang membuat film ini lebih dari sekadar cerita balas dendam adalah pengamatannya tentang sistem. Polisi yang lamban, prosedur yang tidak masuk akal, dan orang-orang yang lebih sibuk menimbang untung rugi daripada menolong digambarkan dengan humor kering yang pahit. Film ini tidak berceramah soal ketidakadilan gender; ia cukup memperlihatkan betapa sulitnya seorang perempuan didengar.

Tempo yang menuntut kesabaran

Pendekatan yang minimalis juga menjadi batasnya. Temponya lambat, adegan sering dibiarkan berjalan lama tanpa banyak kata, dan jarak emosional yang dijaga Mouly Surya bisa membuat sebagian penonton merasa dingin. Penonton yang terbiasa dengan film balas dendam yang eksplosif mungkin mengira film ini kurang “terjadi apa-apa”.

Beberapa simbolismenya juga cukup gamblang, seolah film ingin memastikan maksudnya tertangkap. Namun, kekurangan ini kecil dibanding ketepatan nada dan keberanian gagasannya.

Siapa yang cocok menonton Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak?

Film ini cocok untuk penonton yang menyukai film bertempo lambat dengan gambar kuat, penggemar western yang ingin melihat genre itu dari sudut pandang berbeda, dan siapa pun yang mencari sinema Indonesia serius. Perlu diingat, ada adegan kekerasan seksual dan kekerasan fisik. Semuanya ditangani tanpa eksploitasi, tetapi tetap berat, sehingga film ini hanya untuk penonton dewasa.

Kalau suka, coba juga:

  • Autobiography, thriller pedesaan Indonesia yang sama tenangnya dalam membedah kekuasaan.
  • Impetigore, horor Joko Anwar yang juga menjadikan kampung terpencil sebagai sumber ancaman.
  • The Shadow Strays, untuk kisah perempuan yang melawan balik dengan gaya laga yang jauh lebih brutal.

Kesimpulan

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak adalah western yang sabar, dingin, dan mematikan, sekaligus potret tajam tentang perempuan yang harus memperjuangkan keadilan sendiri. Temponya tidak untuk semua orang dan materinya berat, tetapi Mouly Surya dan Marsha Timothy menghasilkan film yang sulit dilupakan.

Rating: 4/5

Standar editorialLaporkan koreksi

Panduan penonton Indonesia

Di mana nonton Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak?

Katalog Indonesia Celluloid mencatat Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak di Netflix. Ini cuplikan ketersediaan, bukan daftar langsung; periksa judul dan paket langganan di platform sebelum menonton.

Pilih negara Indonesia saat mencari film. Jadwal bioskop, subtitle, harga dan paket layanan dapat berbeda menurut kota serta penyedia.

Jika kamu menyukai Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Pilihan berdasarkan kesamaan genre dan Celluloid Score. Film serupa dengan Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak →

Jawaban singkat

Di mana nonton Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak di Indonesia?

Katalog Indonesia Celluloid mencatat Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak di Netflix. Ini cuplikan ketersediaan, bukan daftar langsung; periksa judul dan paket langganan di platform sebelum menonton.